Cerpen – The Darknes is gone

Sebenernya cerita ini udah lama aku buat, bermula dari tugas menulis di sekolah… tapi, karena aku memang suka menulis jadi, mungkin ada baiknya aku share ajj ya! ^__^ bagi yang suda membacanya please leave your coment! kritik dan sarak kalian sangat aku butuhin! ^__^ thanks!

Baiklah kita mulai ——->>

 

Kakiku terasa berat begitu memasuki gerbang sekolah. Sudah hampir sebelas hari aku tidak pergi ke sekolah. Hanya mengurung diri di dalam kamar dan mencoba menghilangkan beban di kedua pundakku. Koridor sekolah terlihat begitu gelap dan seolah temboknya yang panjang menghempit tubuhku. Dua, tiga orang yang berpapasan denganku mulai memandang dengan tatapan mata yang begitu dingin. Sudahlah, aku sudah terlalu lelah untuk membalasnya. Aku juga tahu, mereka pasti sangat membenciku.

Langkah kakiku berhenti tepat di depan sebuah pintu ruang kelas. Rasanya aku ingin berbalik dan melarikan diri dari tempat ini lalu menghilang tanpa ada seorangpun yang mengetahuinya. “Keyla??…” panggil seseorang dari belakang.

Dengan ragu, aku menengok kearah suara yang tadi memanggil namaku. Aku begitu terkejut ketika melihat Rui, teman sekelasku tengah berdiri dan memandangku dengan raut wajah yang tidak bisa ku deskripsikan. Dia tersenyum lalu mendekat kearahku.

“Ada apa? Ayo masuk, kurasa pelajarannya sudah dimulai. Ah~ dasar! Gara-gara bangun telat aku jadi kesiangan begini!” katanya sambil membuka pintu dan menarikku keadalam kelas.

Semua orang yang berada di dalam kelas sangat kaget saat melihatku masuk. Tatapan mereka lagi-lagi membuatku ingin melarikan diri saja. Terutama tatapan mata yang tajam dari pak Kun, guru matematika yang beberapa menit sebelumnya tengah mencoret-coret papan tulis dengan bilangan-bilangan membosankan.

“Maaf, pak. Kami berdua telat… apa kami boleh duduk?” tanya Rui dengan wajah cerianya. Aku masih menundukan kepalaku sambil sekali-kali melihat keadaan.

“Duduklah,” gumam laki-laki separuh baya itu. Ada apa? Apa tatapannya tadi adalah tatapan menghakimiku?!. Kurasa aku akan merasa jauh lebih baik jika dia memukulku ribuan kali dari pada terus memakiku dalam hati. Aku juga tahu, karena keegoisanku… aku tidak pantas berada disini!.

Bruk! Rui meletakkan tiga buku tulis di atas mejaku sambil berbisik agar aku mencatat rangkuman yang telah dia buat selama aku tidak masuk. Aku sedikit bingung dan heran. Kenapa? Pada saat semua membenciku dan menghakimiku dia malah bersikap baik dan membelaku?. Apa ada yang salah dengannya?. Seharusnya dia yang paling marah karena hal ‘itu’, bukan?. Namun, kebaikannya ini malah membuatku semakin frustasi.

——-

 Sudah lama, aku tidak duduk di bangku taman belakang sekolah. Kalau tidak salah terakhir kali aku kesini adalah dua hari sebelum kejadian ‘itu’ dimulai. Waktu itu, bukan hanya aku. Tapi, Rui juga kak Akio. Mereka ada disini, bersamaku. Sekarang sangat tidak mungkin untuk mengulangnya.

“Kau masih disini, ternyata?” tanya Rui sambil menghela nafas panjang. Mungkin Rui mencariku sampai terengah-engah begitu. Padahal tidak perlu serepot itu, kan?!.

“Disini… kotor, ya?” gumamnya sambil duduk di sebelahku. Aku terus diam dan tidak menghiraukan ucapannya.

“Tukang kebun sekolah seharusnya lebih memperdulikan taman belakang!. Padahal disini lebih menyenangkan,” tambahnya. Memang benar, apa yang dikatakan Rui.  Disini makin kotor saja, kolam ikan yang keruh itu adalah bukti penelantaran.

“Aku… sudah mendengarnya dari kak Leon. Kau mengundurkan diri, katanya…” tanya Rui sambil memandangku dengan datar.

“Sudah tidak ada alasan bagiku untuk tetap barada disana, kan?. Jadi, percuma saja!!. Hanya membuang-buang waktu!!” bentakku mulai kesal. Kenapa dia masih memperdulikanku?. Seharusnya Rui membenciku!!.

“Apa benar karena sebuah ‘alasan’?. Apa kau yakin berlatih di klub hanya membuang-buang waktumu?” tanyanya dengan serius.

Pertanyaan Rui membuatku tertohok!. Memang kenapa jika aku menjawab ‘tidak’?. Lalu, apa salah jika aku bilang ‘iya’?. Pertanyaan itu seolah mengujiku. Membuatku sesak dan sakit. Aku mencintai profesiku sebagai atlet lompat tinggi. Namun, sekarang… sudah tidak lagi. Mungkin akan lebih baik jika aku mundur agar aku bisa melepas rasa bersalahku.

Teng… Teng… Teng…

Bel masuk kelas berbunyi dengan kencang. Untuk beberapa detik membuat telingaku pengang. Percakapan yang melelahkan hati, berhenti disini. Apa aku boleh merasa lega, sekarang?.

————

Aku masih duduk di bangkuku sambil melihat satu persatu orang di kelas berhamburan keluar. Mereka pulang kerumah dengan suasana hati masing-masing. Rui tidak menghiraukanku setelah percakapan kami beberapa jam yang lalu.

Ruang kelas terasa begitu luas ketika hanya aku sendiri yang berada di dalam. Kuarahkan pandangan mataku keluar jendela. Dari sini aku bisa melihat sebuah gedung olahraga. Memoriku, melayang kemasa lalu. Entah kenapa air mataku jatuh hingga aku tidak dapat menghentikannya lagi. Ini terasa begitu menyesakkan.

“Kenapa menangis? Apa kau masih memikirkan kejadian ‘itu’?” gumam seorang cowok yang tiba-tiba sudah berdiri di depanku. Kak Noah?!. Kenapa disaat seperti ini malah dia yang datang?!. Orang yang paling tidak ingin aku temui.

“Bukan urusanmu!” bentakku sambil berdiri dan berusaha pergi.

“Apa kau pikir ini bukan urusanku jika Akio lah penyebabnya?!” bentakknya.

“Kau terlalu lugu untuk berbohong!. Yang benar saja?!. Apa kau mau terus-terusan begini?!!. Menyalahkan dirimu sendiri karena kematian Akio?!!” lanjutnya dengan suara keras.

Sudah cukup! Hentikan!. Aku sama sekali tidak ingin mendengar hal itu dari mulut kak Noah!. Aku tidak ingin menerima rasa simpatinya!!. Aku sudah lama melupakan perasaanku padanya!. Aku tidak mau salah paham karena kebaikannya padaku!. Menyukainya adalah hal yang menguras tenaga!. Dan sekarang setelah kejadian itu seharusnya dia membenciku!!.

“Kematian Akio hanyalah sebuah kecelakaan!. Kau hanya menyiksa dirimu sendiri!!” kata kak Noah dengan mimik muka serius.

“Kenapa? Apa kau sedang mencoba menyelamatkanku dari rasa depresi?!. Kenapa? Padahal seharusnya kau lah yang paling membenciku!. Pacarmu mati karena aku, bukan?!” teriakku kesal.

“Kau benar-benar kekanak-kanakan!,” gumam kak Noah.

“Tidak usah mengomentariku! Jika kau mau kau boleh menghujatku. Bahkan jika semua orang di sekolah ini memukuliku aku akan menerimanya!” bentakku dengan air mata yang mengalir dengan deras.

“Jangan bersikap sok kuat menghadapinya!!. Kau bahkan tidak mengerti apa-apa soal kematian Akio!”

“Apanya yang tidak mengerti?! Kak Akio mati karena keegoisanku!. Ketua OSIS dan senior yang baik itu mati karena aku!. Karena itu, jangan bersikap baik padaku!. Kalau kau mau, kau juga boleh memukulku!” bentakku.

Setidaknnya biarkan aku terlepas dari rasa bersalahku!. Andai saja, aku tidak memaksa kak Akio datang dihari pertamaku lomba lompat tinggi!. Pasti kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi. Dan semua orang tidak akan terluka. Kak Noah tidak akan kehilangan pacarnya dan Rui tidak akan kehilangan kakak kandung yang disayanginya itu.

Plaakkkk!!

Pipiku terasa begitu panas dan nyeri. Rui menamparku dengan sangat keras. Wajahnya terlihat sangat marah dan matanya berkaca-kaca. Kulihat kak Noah berdiri kaget di belakang Rui. Entahlah, apa dari tadi Rui mendengar pembicaraanku dengan kak Noah.

“Apa jika begini kau akan kembali sadar?!. Lalu, jika aku memukulmu sekali lagi… apa kakakku akan kembali?!. Apa kau tidak menyadari usaha kami agar tetap bisa tersenyum di sampingmu saat kau kembali kesekolah?!. ” gumam Rui sambil menangis.

“Padahal, kak Akio selalu memikirkanmu!. Di detik terakhirnya pun… apa kau tahu jika dia memikirkanmu?. Junior kesayangannya?!. Jangan menyusahkan kami sampai seperti ini!. Saat melihat kak Akio tersenyum sambil memanggil namamu membuat kami tidak bisa membencimu!!. Jangan bersikap seolah hanya kau sendiri yang terluka… pikirkan kami juga dong!. Dasar bodoh!” tambah Rui sambil menangis lalu memelukku dengan kencang.

Jantungku seolah berhenti dalam sekejap ketika ucapan Rui masuk melaui telingaku. Dadaku terasa makin sesak. Air mataku terus mengalir tanpa mau berhenti. Aku tahu, aku yang paling tahu jika kak Akio tidak akan pernah kembali. Lalu, entah kenapa belakangan ini aku lupa senyuman kak Akio. Juga suara kak Akio yang menyemangatiku ketika aku sedang berlatih. Maaf, untuk sesaat hatiku menjadi buta. Aku melupakan orang yang sangat ku kagumi dan ku hormati.

Padahal kak Akio lah yang pertama kali membuatku bangkit dari rasa keterpurukanku ketika orang tuaku meninggal. Dan kak Akio lah yang membuatku bisa menemukan bakatku dalam dunia atletik. Kenapa, aku bisa melupakannya?. Maaf… sungguh. Maafkan aku, kak.

—————

 Ku kencangkan tali sepatuku yang sedikit mengendur. Terik matahari di lapangan olahraga membuatku sedikit mengeluarkan keringat dan menjadi haus. Tapi, sekarang bukan saatnya berhenti dan bersantai-santai. Aku masih perlu mengasah kemampuanku untuk mempersiapkan lomba lompat tinggi yang akan diadakan seminggu lagi.

“Key, ini… minumlah dulu” kata Rui sambil melempar sekaleng minuman bersoda dingin kepadaku. Aku langsung membukanya dan menghabiskannya dalam beberapa tegukkan.

“Kau benar-benar bersemangat, rupanya,” kata Rui sambil tersenyum lebar.

“Iya, karena kau dan kak Noah aku jadi bisa bersemangat lagi… terimakasih, karena kau sudah mau menjadi temanku sampai sekarang,” kataku sambil membalas senyumannya.

“Hei, sudah kubilang berapa kali, sih?!. Jangan terus-terusan berterimakasih begitu, dasar bodoh!. Hehe” kata Rui sambil tersenyum lebar.

“AAAH!!! Kak Leon!. Rui mencarimu, loooooh!!” teriakku pada ketua klub lompat tinggi  yang sedang memasang matras itu. Seketika wajah Rui memerah seperti udang rebus. Dan kak Leon hanya tersenyum sambil melambaikan tangannya. Beberapa hari yang lalu Rui dan kak Leon resmi pacaran!. Dan itu berita yang sangat menggembirakan bagiku. Hehehe.

————-

 Kak Akio… aku sudah membacanya. Pesan singkat yang belum sempat kau kirim. Sebuah SMS yang membuatku bisa tersenyum lagi. Aku sangat berterimakasih. Meski sekarang aku sudah tidak bisa mengatakannya secara langsung padamu. Kak Akio, apa kau tahu?. Sekarang semua orang, termasuk aku merasa sangat bahagia. Rui, sudah resmi berpacaran dengan kak Leon!. Sama seperti apa yang kau inginkan.

Dan kak Noah, dia masih tetap mencintaimu. Belakangan ini banyak siswi lain yang menyatakan cintanya pada kak Noah. Tapi, mereka semua ditolak. Dia bilang ingin menjomblo untuk waktu yang cukup lama. Karena ingin fokus pada ujian kelulusan yang sebentar lagi dimulai. Tapi, sebenarnya aku tahu dia belum bisa melupakanmu. Tapi, kau tidak perlu mencemaskannya. Karena kak Noah adalah orang yang kuat dan hebat. Sama sepertimu!.

Sedangkan aku… aku masih terus berlatih untuk bisa menjadi atlet lompat tinggi tingkat nasional. Aku tidak akan menyia-nyiakan kebaikan yang telah kau berikan kepadaku. Aku juga masih sangat terharu tiap kali membaca pesan singkatmu yang panjang yang belum sempat kau kirim itu. Karena itu, sekali lagi… terimakasih. Terimakasih banyak…

From    : Akio senpai

To          : Keyla

Subtitle : Nomor baru

Key, ini nomor handphoneku yang baru. Baru Rui, kau dan Noah saja yang kuberi tahu. Langsung disimpan ya!. Oh iya, besok pagi kau akan lomba, kan?. Malam ini jaga staminamu agar bisa bertanding dengan baik!. Besok aku, Noah, Rui dan teman-teman akan datang mendukungmu!. Kami sudah menyiapkan pom-pom penyemangat, loh!. Karena itu bersemangat dan berjuanglah!. Jika kau bisa memenangkan lomba itu, aku akan mentraktirmu makan pizza!!. Kau sangat suka makan yang seperti itu kan?!. Kurasa aku jadi banyak bicara, tapi sudahlah. Hahaha ^o^.

Ayo~~ Keylaaa Fighting!! ^^ kami akan selalu mendukungmu!! ^^.

_ _ END_ _

 

Don’t forget leave you comment… bagi yang udah baca aku kasih hadiah nih (foto) hehe

by bbjack407

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s